Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Tim peneliti dari Universitas Northwestern mengembangkan prototipe sebuah drone yang mampu “menghilang” dari pandangan manusia. Meski dapat menghilang, drone ini tidak dibekali teknologi kamuflase atau material tembus pandang. Drone bernama Phantom Twist itu memanfaatkan efek buram gerakan (motion blur) dengan cara memutar seluruh badannya hingga 25 kali per detik. Pada kecepatan tersebut, mata manusia kesulitan menangkap bentuk drone sehingga yang terlihat hanya bayangan samar. Berbeda dengan drone konvensional yang menggunakan empat baling-baling, Phantom Twist hanya memakai satu motor dan satu baling-baling. Saat baling-baling berputar ke satu arah, badan drone berputar ke arah sebaliknya. Sehingga badan drone juga akan ikut bergerak dengan kecepatan yang ditentukan. Gerakan inilah yang mengelabui mata manusia sehingga tidak mengenali bentuknya.
Menurut tim peneliti, pada kecepatan putaran antara 15 hingga 25 kali per detik, penglihatan manusia akan menggabungkan objek yang bergerak dengan latar belakang di belakangnya. Efek ini membuat drone tampak hampir tidak terlihat. Untuk merancang drone tersebut, para peneliti menggunakan model komputasi yang menghasilkan sekitar 20.000 konfigurasi desain. Selanjutnya, algoritma kecerdasan buatan (AI) digunakan untuk mengatur posisi motor, baterai, papan sirkuit, penyeimbang, dan komponen lain agar menghasilkan keseimbangan antara kemampuan terbang dan tingkat visibilitas yang rendah.

Ribuan desain itu kemudian diuji melalui simulasi dengan menempatkannya pada 100 latar belakang dunia nyata. Sistem persepsi yang dirancang menyerupai cara kerja penglihatan manusia menilai seberapa mudah setiap desain dikenali. Dari proses tersebut, peneliti mendapat 500 desain dengan tingkat visibilitas paling rendah sebelum akhirnya menghasilkan desain akhir Phantom Twist. Susunan komponen drone ini sengaja dibuat berjauhan dengan ketinggian dan sudut yang berbeda. Hal ini dirancang agar ada ruang kosong di antara komponen yang mencegah terbentuknya siluet gelap saat drone berputar, sehingga bentuknya semakin sulit dikenali. Meski demikian, prototipe ini masih memiliki sejumlah keterbatasan. Saat ini Phantom Twist masih bergantung pada sistem pengoperasian terbatas di lingkungan terkontrol.
Selain itu, beberapa komponen seperti kabel dan batang penyangga serat karbon masih terlihat dan suara baling-balingnya tetap dapat terdengar meski bentuknya sulit dilihat. Ke depan, peneliti berencana mengembangkan versi yang lebih senyap serta menggunakan material yang lebih transparan untuk meningkatkan efek “menghilang” tersebut. Tim peneliti menilai, teknologi ini berpotensi dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti untuk mengamati satwa liar tanpa mengganggu habitat.
Selain itu, kamera yang dipasang pada badan drone yang berputar juga dapat menghasilkan sudut pandang 360 derajat untuk membantu navigasi, dirangkum KompasTekno dari Tech Spot.
Sebelumnya, sejumlah peneliti juga mengembangkan drone yang sulit dideteksi, seperti drone pengintai seukuran nyamuk dari China dan RoboBee bertenaga surya buatan Harvard.